Jumat, 05 September 2014

Sepenggal Kisah di Sudut Semarang

         Masih sangat melekat kenangan singkat di hari itu. Pagi  ketika sang  surya malu-malu menyapa,  aku telah bersiap bergegas pergi.  Diantar bersama embun pagi yang menyelinap diam-diam menghilang ,  kulalui kota rantauku ini. Menerjang ramainya lalu lalang kendaraan,membelah suasana pagi dan   menyusuri kota yang berjuluk kota lumpia. Sampailah aku di sebuah bangunan tinggi menjulang diantara bangunan-bangunan pencakar langit lainnya. Kulangkahkan kaki perlahan – perlahan menuju tempat yang kutuju. Sebuah lorong berbingkai kaca berjalan pelan mengantarkanku. Sebuah ruang tersekat dinding menyambut sejenak setelah aku keluar dari lorong kaca itu. Pertama kali kumasuki ruangan itu, tatapan mata-mata yang tajam menyambutku. Pertama kali bertatap muka dengan  wajah – wajah asing yang tak pernah ku lihat sebelumnya dalam hidupku. Langsung kutuju bangku depan dan sesegara mungkin aku mendudukinya.  Saat aku terduduk termenung di bangku mengkilap paling depan, Nampak  seorang wajah yang ku kenal sebelumnya masuk perlahan menuju ruang yang sama. Kupandang dia dengan penuh perhatian. Kuamati setiap lekuk wajahnya, wajah yang tak asing bagiku.  Ya, ternyata benar dialah orangnya. Karibku yang telah lama tak jumpa. Namanya yang sederhana  tentu teringat betul di memori ingatan  ini. Seketika aku seperti  kembali ke masa dimana aku dulu bersamanya, merangkai cerita masa sekolah yang tentunya tak akan terlupa olehku. Sebuah jabat tangan hangat menyambut kami berdua. Takdirlah yang telah menentukan aku  bertemu dirinya dan mereka yang tak ku kenal sebelumnya. Ya, takdir kataku. Inilah cara Tuhan mempertemukan kembali jalinan persahabatan yang telah cukup lama terputus karena jauhnya jarak di antara kami. Ruangan segi empat berbatas dinding-dinding dingin diantara bangunan megah nan tinggi menjadi saksi pertemuan kami.  
Aku yang masih terheran-heran dengan kejadian pagi itu, memulai kisah  bersama kawan baru dari belahan tempat lain. Datang ke kota Semarang dengan berbagai latar belakang dan perbedaan. Namun merekalah rupa penuh aroma semangat yang dibawa dari kota asal mereka. Semangat mencari hal baru, merangkai cerita baru yang akan menjadi penggalan  dari kepingan hidupku yang utuh. Suasana dingin yang menyeruak memenuhi ruangan terkalahkan oleh semangat yang membara.  Simpul  senyum bersahaja  yang tak pernah pergi selalu menghias bibir mereka. Hari perdana dalam pencarian ilmu kami lalui begitu cepat. Siang yang terik diusir senja secara perlahan. Mengantarkan malam kami yang indah di sudut kota ini. Meski malam datang dengan muka gelapnya, gerlap lelampu jalanan menghias pekatnya malam. Berteman bintang dan rembulan membuat malam nampak bahagia. Malamku nampak indah kupandang dari balik sepotong kaca besar di balik bangunan. Pencarian wawasan baru tak berhenti begitu saja meski malam datang. Suasana malam yang menentramkan hati menambah gelora pikiran-pikiran muda penuh wahana. Aku terduduk kembali  menanti orang-orang hebat yang bersedia berbagi secuil ilmu dengan kami. Mata ini berbinar, hati ini berdecak penuh rasa kagum melihat orang-orang luar biasa duduk di depanku. Aku dan mereka yang ada di sampingku seolah tak ada bandingannya dengan orang-orang hebat itu. Setiap kata yang mereka ucap adalah motivasi yang memacu diri ini memuntahkan pikiran-pikiran kreatif yang mulai muncul di seluk pikiran ini meskipun rasa lelah datang menghampiri. Malampun kian larut mengundang jiwa-jiwa yang mulai didera keletihan. Saatnya bagi diri ini mengistirahatkan mata menghabiskan sisa-sisa malam. 
Malam itu adalah salah satu malam terindah yang ada dihidupku. Namun sayangnya sayup-sayup adzan subuh dan gerit pintu di ujung ruangan menghentikanku menikmati waktu tidur. Sambutan pagi yang hangat di awal pagi. Perburuan ilmupun dilanjutkan. Seorang pria tengah baya memasuki ruangan dengan senyum mengembang di bibirnya. Menyapa kami dengan penuh ramah tamah menebar rona penasaran di wajah ini. Membuatku penasaran dan bertanya-tanya hal hebat apalagi yang akan kami terima darinya. Beliaupun memulai perbincangan kami pagi itu. Satu kalimat yang membekas di pikiran hingga saat ini, “ aku tak akan berkata  sebelum sang Mahakata mau berkata”. Kalimat sederhana yang penuh sarat makna.  Menjadikan bekal bagi kami  di akhir-akhir perjumpaan. Akhirnya tibalah saatnya perpisahan, karena sesungguhnya pertemuan ada untuk menghantar perpisahan. Aku baru mengenal mereka belum genap satu hari, tetapi jiwa kami seakan – akan telah mengenal dan tak menginginkan sebuah perpisahan. Senyuman, semangat, dan kenangan singkat dari para punggawa bangsa yang akan mengubah dunia dengan menggoreskan kata-kata. Semuanya terbingkai indah di dasar hati dengan sebuah harapan akan dipertemukan kembali pada suatu masa yang akan datang. Terima kasih telah hadir dalam salah satu cerita hidup ini.

Untuk kalian yang akan selalu kurindukan J J J J

Kamis, 28 Agustus 2014



MENTARI MALAM HARI

Malam ini aku sedang duduk termenung dibawah sinar bulan. Aku memandang langit yang tampaknya sedang bermuram memandangku. Mungkin ia marah padaku, karena aku selalu memuji bulan yang bergantung padanya. Aku tak mau melihat langit bermuram seperti ini. Ditanganku, aku menggenggam sebungkus kembang api. Aku  menyalakannya untuk menghibur sang malam yang sedang bermuram. Langit malam di atasku seketika mengubah wajahnya yang semula muram. Kini penuh dengan kilau cahaya kembang api yang kunyalakan. Pekat kabut awan yang menutup wajahnya perlahan menghilang. Seluruh tubuhku merasakan kesenangan yang luar biasa malam ini. Meskipun aku menikmatinya seorang diri dan tak ada kawan. Aku tetap dapat tersenyum dan tertawa bebas bergurau bersama malam. Kehidupan malam adalah sahabat yang selalu membuat malam-malamku begitu indah. Aku rela tidak tidur semalaman, untuk menemani sang malam hingga akhirnya terusir pergi oleh sang fajar. Entah mengapa aku benci kehidupan siang. Kehidupan yang bising dan penuh hiruk pikuk orang-orang. Aku lebih banyak menghabiskan siangku untuk tidur di kasur menunggu senja datang yang mengantar sang malam padaku. Aku hanya akan terbangun jika malam telah datang. 
Namaku adalah Mentari. Usiaku saat ini menginjak 19 tahun. Memang bisa dibilang aku ini pengkhianat atau apa. Namaku saja berarti matahari, tapi aku lebih suka malam dimana aku tak dapat melihat matahari yang menyilaukan itu. Sejak aku divonis dokter menderita leukimia dan hidupku tidak lama lagi, aku lebih menyukai kehidupan yang tenang yaitu malam. Tak ada lagi kawan yang setia mendengarkan keluh kesahku seperti saat aku  sekolah dulu. Ya, hanya malam yang menjadi sahabatku. Sesekali kawan semasa sekolahku dulu datang menjenguk untuk melihat keadaanku. Tapi aku tak pernah mau menemui mereka. aku tau, mereka hanya kasian pada tubuhku yang mulai habis ini. Mereka tak benar-benar perhatian padaku. Aku juga tau , mereka selalu membicarakan tentang malangnya nasibku ini menjadi cerita hangat yang tak akan habis diceritakan. Semenjak aku sakit aku kurang sosialisasi dengan orang-orang sekitarku. Bahkan terhadap kedua orangtuaku. Aku sering menyendiri dimalam hari. Ayah ibuku bekerja sepanjang siang mencari uang untuk kesembuhan yang tak ingin kudapatkan. Sudah kukatakan pada mereka, aku hanya akan pasrah dan siap kapanpun aku dipanggil Tuhan pulang ke surganya. Aku tak ingin melihat mereka menderita karena aku. Biarkan aku saja yang menanggung semua penderitaan ini. Tetapi mereka tetap saja bekerja banting tulang hanya demi diriku yang tak berguna ini. Aku tak pernah meminta apapun dari mereka selain kembang api yang selalu kunyalakan disetiap malam - malamku. Cukup kembang api sudah membuatku bahagia.  Kembang api yang memercikkan cahaya-cahaya indah untuk orang lain meskipun dirinya sendiri terbakar habis dan dibuang nantinya.
Hingga suatu siang ditengah tidurku yang lelap, kurasakan nafasku yang teramat berat. Pandanganku yang kabur, dan tubuhku yang terasa lemas. Aku berfikir,  apakah ini saatnya Tuhan?. Seketika ibuku datang dan aku tak sadarkan diri dipangkuannya. Saat kubuka mata ini, ayah ibuku sedang memegang tanganku erat seolah tak akan melepaskannya. Mereka tertunduk lesu menyaksikan keadaanku yang lemas dan tak berdaya.   Melihatku yang tersadar kembali raut wajah mereka seketika bahagia tiada tara. Aku tak bisa membayangkan jika aku benar-benar pergi meninggalkan mereka. Betapa hancurnya hati mereka kehilanganku. Air mataku perlahan turun melewati sela-sela pipi ini. Hari-hariku kuhabiskan di rumah sakit yang penuh dengan tangisan setiap kali ada yang meninggal. Mungkin suatu hari giliran ayah ibuku yang akan menangisi kepergianku nanti. Ya, aku tak akan tau kapan waktunya akan tiba. Aku sudah siap dan pasrah meskipun sebenarnya aku tak mau membuat orangtuaku bersedih karena kehilanganku. Tak jauh berbeda saat aku dirumah. Siangku kuhabiskan untuk tidur. Hanya saat pemeriksaan saja aku terjaga di siang hari.  malam hari kuhabiskan menemani malam meskipun hanya lewat jendela. Pasien tak diizinkan keluar pada malam hari, itulah aturannya. Hanya satu kesedihanku, aku tak dapat menyalakan kembang api ditempat ini. Terasa ada yang kurang dalam hidupku. Sahabatku sang malam tak terhias percikan kembang api yang indah. Tapi tak apa, masih ada ribuan bintang yang menghias muka pekatnya sehingga ia tidak selalu gelap gulita.
Suatu ketika saat pemeriksaan, aku diantar oleh perawat yang sangat baik hati dengan senyum ramah yang selalu terkembang dibibirnya. Kulihat pada papan namanya, ia bernama Raja. Nama yang amat bagus menurutku. Ia begitu ramah dan sabar melayaniku. Perhatianku pun tak pernah lepas darinya semenjak saat itu. Ada yang aneh setiap kali kubuka mata di pagi hariku. Disudut meja kamarku, selalu kudapati rangkaian bunga yang berganti setiap harinya. Entah siapa yang meletakkannya disana. Awalnya aku tak peduli, tapi lama-lama aku penasaran siapa yang menaruhnya disana. Kedua orang tuaku mengaku juga tak pernah tau, siapa yang menaruhnya disana. Aku berusaha tidur lebih awal meninggalkan sahabatku sang malam agar bangun lebih pagi dan melihat siapa yang menaruhnya. Tapi tak juga kutemui  jawabannya. Hingga aku kepergok oleh perawat bernama Raja saat aku berusaha mencari orang yang kucari disuatu pagi. Kamipun berbicang-bincang cukup panjang sambil berjalan-jalan disekitar Rumah Sakit. Ternyata ialah orang yang kucari selama ini. Dia yang selalu memberiku rangkaian bunga yang menyejukkan mata itu. Aku terbelalak dan tak percaya sama sekali. Untuk apa ia melakukannya. Padahal kami baru bertemu satu kali saja saat pemeriksaan.  Dia bilang, dia ingin aku melihat siang dan sedikit melupakan malam yang selalu kuagung-agungkan. Aku juga harus menyukai siang serupa aku menyukai malam. Siang juga indah seperti rangkaian bunga yang selalu ia berikan padaku. Dia juga bilang, aku ini masih muda dan banyak harapan-harapan yang belum dapat kurengkuh dan seharusnya kuperjuangkan. Aku tak boleh pasrah pada keadaan yang menempatkan pada posisi yang sejujurnya tidak kuinginkan. Kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk memperjuangkan segala sesuatu meskipun akhirnya Tuhanlah yang akan menentukan. Termasuk masalah hidup dan matinya manusia. Dia ingin aku bersinar terang seperti namaku,  mentari yang mampu memberi semangat pada orang – orang sekitarnya tanpa melupakan dirinya sendiri. Akupun tertegun dan tak percaya bahwa ada seseorang yang selalu memperhatikan kehidupanku dari kejauhan.
Baru kali ini, aku mengerti tentang arti hidup yang sesungguhnya. Aku tak boleh hanya berpasrah diri sebelum berusaha. Meski aku tau , hidup ini tak akan lama. Tetapi aku salah teramat besar. Hari-hari lalu kubuang percuma dan tanpa melakukan apapun yang berguna. Hanya bermain-main kembang api dan memuja malam setiap hari yang menjadikan aku benci pada siang.. Raja telah membuka hati yang selama ini terkunci terkubur oleh batuan keras tertutup ego. Akupun menangis haru, dan menyesali apa yang kuperbuat pada hidupku sendiri. Hidup yang selama ini kusia-siakan. Tuhan, maafkan aku yang terlalu naif ini. Tak menghargai setiap nafas, setiap detakan jantung, setiap aliran darah yang Kau anugerahkan padaku. Selama ini aku hanya  menjadi seonggok daging yang tak berguna.  Tuhan, terima kasih telah kau bawa Raja pada hidupku.  Kini aku bukan Mentari di malam hari lagi, karena kini aku adalah Mentari yang akan hidup lebih lama dari apa yang dapat kupikirkan. Akulah si egois yang telah tersadar oleh seorang Raja. Selama Tuhan masih mengizinkan aku memiliki ruh ini, akan kuperjuangkan hidupku sampai Tuhan mengambil kembali dan menjadikan aku tulang belulang yang akan  melebur dengan tanah.




Sabtu, 07 Juni 2014



 Jogja malam hari

Saat sang surya mulai hilang kuasa
Rembulan berteman bintang pun bertahta
Menghias langit gelap pekat
menyejukkan mata,

Keramaian suasana jalan kecil,
Riuh orang-orang mengais  rezeki,
Alunan musik saling berderu,
Tergambar dengan sangat jelas

ragaku ingin di sini lebih lama
jiwaku pun senada.
suatu hari nanti,
jika nyawa ini masih melekat dalam raga
aku akan datang kembali
Jogja.

Jogjakarta, 09 Mei 2013



Sabtu, 03 Mei 2014

Bosan



kupandang rembulan
tapi,  tak seindah hari lalu
kulihat bintang              
tapi , tak seterang hari lalu
kupuja malam
tapi, tak sehening hari lalu
kurasa angin
tapi, tak semilir hari lalu
ahh, mungkinkah aku sedang bermimpi?
atau mungkin hanya perasaanku
saja yang mulai memberontak? 

Semarang, 21 April 2014